Showing posts with label Cerpen. Show all posts

[Cerpen] Aku, Kamu, dan Segelas Lemon Tea~


     Kristal dingin itu berputar-putar di dalam gelas bening berisi cairan berwarna coklat kekuningan, seirama dengan gerak sedotan yang kugunakan untuk mengaduknya. Bunyi yang ditimbulkan menyita perhatianmu sejenak. Aku berharap kau mau memulai sesuatu. Namun tidak, kau alihkan lagi pandanganmu ke luar jendela, ke seberang jalan tempat dimana anak-anak kecil tengah tertawa-tawa bermain ayunan. Lalu diam. Tak sepatah katapun keluar dari bibirmu.

     Aku hampir putus asa. Sudah hampir dua jam kita berdua duduk disini, tapi kau tak bersuara. Hanya duduk diam, dan mendengarkanku bercerita, bertanya tanpa mendapat jawaban, bahkan aku tak mampu membuatmu menatapku dengan mata coklatmu yang indah itu. Yang sekarang hanya menyiratkan kekosongan. Aku tahu, apa yang kulakukan padamu dua tahun lalu sangatlah salah. Tak perlu kau jelaskan, tak perlu kau ingatkan, karena selama dua tahun ini aku hidup dalam penyesalan dan rasa bersalah. Tanpa pernah tahu bagaimana cara menebusnya.

    Gelasku kosong. Kupanggil waitress, memesan segelas lagi minuman favoritmu. Aku bertanya padamu, apa kau mau? Tapi kau lagi-lagi tak menjawab, menggelengpun tidak. Kau masih marah, sama seperti yang kaulakukan sebulan setelah kejadian celaka itu. Kuhela nafas, lalu menyebutkan pesananku ke gadis yang megenakan seragam putih khas kafe ini. Dia mencatat dengan tergesa-gesa, lalu pergi begitu saja. Hei, apa yang salah dengan gadis itu? Sepertinya pelayan disini perlu mendapat pelajaran tentang etika. Bagaimana bisa dia memperlakukan pelanggan tetap kafe ini dengan begitu kasarnya.

    Kau masih memandang kearah luar, tak terusik dengan dengusan kesal yang sedari tadi kuucapkan panjang pendek. Anak-anak yang bermain ayunan tadi sepertinya sudah pergi. Hanya lalu lalang motor dan mobil yang menghiasi jalanan depan. Lampu-lampu penerang jalan mulai dinyalakan. Tanda bahwa matahari mulai beranjak menuju ke peraduannya. Dan kau masih membisu. Sama seperti yang kau lakukan setiap kali bertemu denganku dua tahun terakhir ini.
    "Esther, kumohon bicaralah padaku," kucoba meraih genggamanmu, tapi kau menepisnya.
   "Aku tahu, aku salah karena telah menghianatimu dua tahun lalu. Tapi aku sadar, aku telah berubah sekarang. Dan kau tahu itu", kuusap kedua mataku yang mulai berair. Aku tipe lelaki yang pantang menangis, seorang lelaki tak mungkin terisak di hadapan perempuan yang dicintainya. Tapi terkadang hal-hal seperti air mata bukanlah sesuatu yang bisa kau kendalikan kecuali kau seorang aktor.

    Perkataanku kali ini masih berbuah sama, kau sama sekali tak tersentuh, ekspresimu seakan menunjukkan bahwa kau sudah bosan dengan apa yang kukatakan. Kali ini kau lebih memilih untuk memainkan gantungan kunci mickey mouse yang kau kaitkan di tas mu.
   Aku menghela nafas. "Sejujurnya, aku sangat bersyukur kau masih mau bertemu denganku setelah kejadian itu. Aku sangat bersyukur dan menghargai kebesaran hatimu. Tapi kebisuanmu selama ini sangat menyiksaku, membiarkanku melihatmu setiap hari tanpa mau berbicara sepatah katapun padaku. Kau tahu, itu sangat kejam Esther. Jadi kumohon, bicaralah padaku," ucapku  lirih.

    Percakapan kita, bukan, permintaan maafku yang menyedihkan harus terpenggal sejenak, karena waitress tadi kembali membawakan minumanku. Masih dengan tatapan anehnya, dia mengangsurkan gelas keduaku dengan memaksakan sedikit senyuman. Kuucapkan terima kasih, lalu kuminum seteguk minuman asam ini. Iced Lemon Tea. Minuman favoritmu yang nomor satu. Aku sangat ingat itu. Karena kau tak pernah absen memesan minuman ini setiap kali kita pergi makan, kapanpun, dimanapun. Aku selalu terheran-heran, bagaimana bisa kau menikmati minuman aneh ini. Rasa asamnya sebenarnya tak pernah bisa membuat perutku nyaman. Tapi kau bilang justru rasa asam tidak mengenakkan itulah yang membuatnya manusiawi.

    "Kita hidup di dunia, engga mungkin kan selalu menikmati apa yang disebut dengan kebahagiaan? Terkadang kita menemui hal-hal sulit yang mau-tak mau harus kita lalui. Dan setelah melaluinya, kita disadarkan bahwa justru dari hal sulit itulah kita belajar untuk menjadi sosok yang lebih kuat. Setelah menghadapi masa itu, kita akan bermetamorfosis menjadi sosok yang lebih dewasa dan percaya diri menghadapi hal lain yang mungkin lebih sulit. Dari proses itu kita sadar, bahwa hidup tak selalu diwarnai dengan segala sesuatu yang manis dan memanjakan. Dan menurut aku, semua rasa itu terangkum dalam segelas minuman ajaib yang kita sebut lemon tea. Ada rasa manis di dalamnya, terkadang kau menemukan pahit jika si penyeduh terlalu lama mencelupkan tehnya, dan ada rasa asam yang terkadang membuatmu harus mengernyitkan mata. Itu semua rasa dalam kehidupan yang harus kita lalui. Meskipun aku lebih prefer ada tambahan es di dalamnya, karena itu akan menambahkan perasaan "menyegarkan" yang tiada tandingannya."
    Begitu penjelasan panjang lebar yang kau berikan saat aku menanyakan mengapa kau tergila-gila dengan jenis minuman teh ini. Aku hanya bisa menggelengkan kepala dan tertawa, menyerah pada filosofi brilianmu. Kau tahu, aku rindu dirimu yang ceria seperti dulu. Kupandangi rambut ikal sebahumu yang kau biarkan tergerai. Betapa aku sangat ingin menyentuhnya.

    Bunyi klakson truk pengangkut semen membuyarkan lamunanku. Kulirik jam di pergelangan tangan. Sepertinya usahaku untuk membujukmu akan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.
"Ayo kita pulang sayang, aku tak mau ibumu marah karena tak segera mengantarmu pulang", ucapku lembut. Kau beranjak dari kursi lalu mendahuluiku berjalan ke mobil yang kuparkir di samping kafe. Masih dengan ekspresi datarmu. Kuambil tas yang tersampir di kursi lalu berjalan ke arah kasir. Usai membayar, aku masih berdiri mematung di dekat meja kita di depan jendela kaca besar. Memandangi gelas kedua Iced Lemon Tea yang belum habis kuminum. Di belakang, aku mendengar bisik2 pegawai kafe yang tadi mengantar minuman kita. Bergosip dengan rekannya.
     "Mbak Lia, orang itu agaaak...?"
    "Ssstt.. Jangan keras2. Dia itu pelanggan di kafe ini. Sudah dua tahun kebelakang selalu datang ke tempat ini, memesan dua gelas lemon tea tanpa pernah menyentuh gelas yang satunya. Dan selalu berbicara sendiri, terisak, lalu pergi, tepat saat senja datang seperti ini. Kabarnya kekasihnya meninggal bunuh diri dua tahun lalu, entah karena apa."

     Cih, dasar perempuan, hobby sekali membicarakan sesuatu yang bukan urusannya. Tak kudengarkan sisa percakapan mereka. Toh bukan urusanku juga, pikirku lalu melangkah pergi meninggalkan meja itu. Meninggalkan segelas lemon tea tak tersentuh yang telah menjadi saksi pertemuanku denganmu, saksi amarah dan kebisuanmu dua tahun terakhir ini.

[Cerpen] Satu.Dua.Tiga.Empat~

Source
Satu..Dua..Tiga..Empat~
Tetes air hujan mulai jatuh dari ember besar di langit. Dengan usilnya membangunkan kucing kecil yang tengah terlelap di bangku taman. Si kucing terperanjat, lalu berlarian mencari tempat perlindungan. Perlahan tetes tetes kecil itu berubah menjadi gerimis yang semakin rapat. Memaksa pengunjung taman beranjak dari kegiatan santai yang mereka lakukan, masuk ke minimarket seberang jalan, atau sekedar berjejer di pinggiran toko untuk berteduh. Beberapa dari mereka masuk ke kafe ini, memesan minuman hangat dan sepotong cake manis, untuk menemani mereka menunggu sang langit puas menumpahkan bebannya. Di meja depanku, kini, duduk sepasang suami-istri dengan seorang anak kecil yang manis. Mata besarnya mengarah kepadaku, menatapku dengan polosnya. Kubalas dengan lambaian tangan, lalu dia tersenyum. Sungguh menggemaskan. Lalu kau datang. Tidak. Bukan wujud mu yang berada disini. Kau, seperti biasa, mulai menguasai pikiranku. Membangkitkan memori-memori, yang entah kenapa enggan untuk kulupakan. Yah, harus kuakui, memang itu salah satu alasanku datang ke tempat ini.
Satu..Dua..Tiga..Empat~ 
Hujan mulai bertambah deras. Sepertinya langit marah, karena sekarang, dia meminta petir datang menemaninya. Mengingatkan manusia-manusia angkuh yang ada di dunia, bahwa ada kekuatan lain yang lebih berkuasa. Kau ingat, tepat di saat-saat seperti ini, kita sering menghabiskan waktu di kafe seberang taman kota. Berdua, duduk di meja pojok, yang tanpa diikrarkan telah menjadi spot favorit kita. Bahkan para pekerja kafe pun terlalu hafal kebiasaan itu. Kau duduk di depanku, menyesap secangkir coklat hangat kesukaan kita. Kau diam, aku diam. Tak ada suara apapun selain derak hujan yang menampar jendela kaca besar yang memisahkan kita dengan hujan diluar. Tapi kita selalu bisa menikmati itu. Kau sesekali tersenyum, memandangi butiran air yang jatuh dan memantul di jalanan. Entah apa yang kau pikirkan. Aku tak pernah tahu..

Satu..Dua..Tiga..Empat~
Empat tahun. Seharusnya aku sudah bisa mengusirmu. Yang sejujurnya, sudah berusaha kulakukan. Tapi kau masih disini. Kau memang selalu seperti itu. Terlalu keras kepala untuk mendengar perkataan orang lain. Bahkan di khayalanku pun kau masih seperti itu. Ngeyel. Ucapku kesal tiap kali kau melakukan segala sesuatu dengan caramu sendiri. Dan aku tak pernah suka akan hal itu. Aku tak pernah suka mencoba hal-hal baru, melakukan hal-hal gila yang kau bilang untuk memacu adrenalinmu. Aku terlalu nyaman terhadap rutinitas yang kujalani. Kita memang sangat berbeda. Tapi kau selalu berhasil membujukku. Mengikutimu melakukan hal-hal tak masuk akal, yang mungkin takkan pernah kulakukan dalam hidupku. Lalu kau akan tersenyum puas, ketika akhirnya kau bisa membuatku tersenyum atau bahkan tertawa melakukan sesuatu yang konyol yang seringkali membuat kita jadi tontonan orang banyak. Oh iya, apa aku pernah mengatakan padamu bahwa aku sangat menyukai senyummu?

Gemuruh petir mulai menghilang, hanya sesekali terlihat kilat dan terdengar derumnya di kejauhan. Tapi ketukan itu masih ada. Satu. . Dua. .Tiga. .Empat. . Hujan masih setia membasahi bumi dengan rindu yang telah lama dipendamnya. Membawakan harapan baru bagi kehidupan lain yang bergantung pada mereka. Hujan itu hadiah dari Tuhan untuk makhluknya yang percaya. Itu katamu. Dulu aku akan membantahnya dengan berbagai alasan aneh, alasan apapun yang bisa mematahkan pendapatmu. "Hujan itu menyusahkan! Jalanan becek, bikin orang basah, belum lagi kalau hujan bawa temen-temennya, Jakarta banjiir. Emang banjir juga hadiah dari Tuhan?", itu yang ku katakan suatu kali. Lalu, dengan senyum kecil kau berkata, "Coba kita lihat dari sisi lain. Kamu tahu gak, apa yang sebenarnya jadi penyebab banjir? Iya, memang hujan salah satunya. Tapi kalau kita lihat lagi, tata kota yang berantakan, kesadaran masyarakat yang kurang akan kebersihan, serapan tanah yang hampir gak ada. Hal-hal itu yang sebenarnya jadi penyebab banjir di Jakarta. Justru, dengan adanya hujan, yang menimbulkan banjir ini, Tuhan ingin mengingatkan makhluknya, bahwa ada sesuatu yang salah dengan cara hidup mereka.", aku cuma mengangguk. "Jadi, apa kau masih beranggapan bahwa banjir itu salah Tuhan?" aku terdiam. Takzim. Cara berpikirmu inilah yang selalu membuatku tak henti menatapmu dengan kagum.

Hujan mulai reda, orang-orang mulai meninggalkan tempat berteduh mereka. Menyebar bagai semut yang terburu-buru pergi dari toples gula karena dihalau pemilik toples tersebut. Kafe kembali lengang, beberapa meja telah ditinggalkan pengunjung. Satu. .Dua. .Tiga. .Empat. . Hanya tetes air dari atap yang masih terdengar. Kuedarkan pandanganku kearah langit diluar. Biru, bersih. Namun tak kutemui bayangan ajaib itu. Aku tak pernah bisa menemukan pelangi di kota ini. Walau begitu, kehadiran hujan di hari-hari melelahkan ini cukup mengobati rinduku.. Kau tahu, sekarang aku sepenuhnya percaya kata-katamu. Hujan memang hadiah dari Tuhan untuk makhluknya yang percaya. Karena hujan selalu bisa mengingatkanku akan dirimu. Menyajikan tiap keping kisah kita dalam setiap tetesnya yang jatuh ke bumi. Kuteguk sisa coklat hangat di gelasku. Lalu beranjak meninggalkan ruang beraroma manis ini. Udara diluar yang sejuk menyambutku begitu aku membuka pintu. Aroma khas hujan.

Satu..Dua..Tiga..Empat~
Aku hanya bisa menghitung ketukan itu sampai angka ke-empat. Begitu terus, berulang-ulang. Karena dengan setiap ketukan ini, aku ingin mengingatmu. Cukup dari satu sampai empat, untuk kebersamaan kita yang bahkan tak sampai empat belas bulan. Satu sampai empat, untuk empat kata terakhir yang kau ucapkan padaku, sebelum akhirnya kau meninggalkanku. Meninggalkan semua orang yang menyayangimu. Satu.. Dua.. Tiga.. Empat.. begitu aku berhitung setiap aku memejamkan mata. Berharap ketika mataku terbuka, kau ada, tersenyum di hadapanku. Aahh... Lagi-lagi aku mengharapkan hal yang tak mungkin terjadi. Berbahagialah disana wahai kau pencinta hujan. Aku akan selalu mengenangmu.

Terimakasih Tuhan, telah menghadirkan hujanmu untuk mengingat hujanku.

[Cerpen] Gue Benci Rain!!


 “Shitt!! Kenapa sih hujan selalu ngancurin hidup gue!!!”, teriak Maya kesal sembari mengeluarkan selembar kertas ukuran A3 yang hampir hancur karena basah kuyup dari tasnya. Kertas itu adalah tugas seni lukisnya yang harus dikumpulkan besok, padahal dia sudah susah2 merayu kakak sepupunya untuk membuatkannya gambar ini namun kini, sepertinya dia harus bekerja keras untuk melukisnya lagi dari nol.
“Gue benci hujan!!!!!”, teriak Maya
Dia kembali terisak jika dia mengingat kejadian yang telah merubah hidupnya itu.
Lima tahun yang lalu, dia harus kehilangan kedua orangtuanya karena sebuah kecelakaan mobil di puncak Bogor. Malam itu hujan sedang turun dengan lebatnya, mereka hendak menghadiri undangan dari salah seorang rekan bisnis Papa nya di Bogor. Maya sempat merasa ada feel ga enak waktu itu, dia sempat meminta keduanya buat ga pergi, bahkan dia sempat menangis membujuk Papa Mama nya supaya ga pergi.
“Maya sayang, kenapa kamu ngelarang Mama buat pergi?? Kamu takut di rumah sendiri?? Kan ada Kak Dimas, ada si Mbok juga”,tanya Mama nya saat itu.
“Maya ga takut di rumah sendiri Ma, cuma... cuma... perasaan Maya ga enak, Maya mohon, kali ini...aja, Mama dengerin Maya, jangan pergi ya...”,bujuk Maya dengan berlinangan air mata.
“Maya, kamu kan udah kelas 4, udah besar dong. . . masa Mama Papa mau pergi aja ga boleh...”,ucap Papa seraya mengusap lembut kepalanya.
“Tapi Pa...,”
“Udah ya, Papa pergi dulu,”Papa mengecup keningnya.
“Sayang, baik-baik ya di rumah, kalau ada apa-apa, langsung telpon Mama, oke??”Mama menciumnya. Dia ingat betul senyum mamanya malam itu. Senyum terakhir untuknya.
Beberapa jam kemudian, ada telpon dari kepolisian yang menyatakan bahwa mobil yang ditumpangi kedua orang tuanya terperosok ke jurang, dan keduanya meninggal di tempat kejadian. Maya sangat syok.
“Kak Dimas, ini semua salah Maya, harusnya Maya ga ngebiarin Mama pergi, harusnya Maya minta biar Mama tetep di rumah, harusnya Maya ikut mereka berdua biar bisa ngingetin Papa supaya hati2 nyetirnya, harusnya..harusnya...,”isak Maya ditengah-tengah pemakaman orangtuanya.
“Ssst... udah Maya, udah, ini semua bukan salah siapa2, kamu tenang ya...”, ucap Kak Dimas menenangkannya
“Tapi kalau aku bisa nyegah Mama biar ga pergi, ini semua ga bakal terjadi Kak... ini semua salah Maya...”,