Sebuah Buku Tanpa Kata~

source

Dirimu bagaikan sebuah buku dengan sampul berwarna warni, menjanjikan sebuah cerita indah
Sangat menarik, menggoda, dan ingin sekali kubaca
Kubuka halaman pertamamu, ada sesosok bocah kecil nan menggemaskan disana, dengan senyum polosnya mengulurkan tangan, berusaha menggapai seekor capung yang tengah hinggap di sebuah semak ilalang
Tak ada kata, hanya gambar indah itu yang ada disana

Kubuka halaman berikutnya,
Ku temukan gambar lain,sang bocah berada di dalam danau, tangannya terulur keatas, beberapa anak lain bergerombol di tepian danau
Aku tak tahu harus mengartikannya seperti apa, karena sekali lagi, buku ini tanpa kata
Mungkinkah si bocah tengah berenang, melambai kepada teman-temannya, mengajak mereka untuk bergabung bersamanya?
Ataukah bocah itu tenggelam, meminta tolong kepada teman yang dengan cemas hanya bisa melihatnya dari tepi danau?
Aku beralih ke halaman lain, mencoba mencari petunjuk,
Namun aku hanya menemukan gambar berwarna-warni disana
Tak ada yang bisa kubaca, tak ada yang bisa ku eja
Kubalik halaman-halaman berikutnya
Nihil, berbagai macam gambar indah itu tak bermakna
Karena tanpa kata
Lalu, apa aku harus mengintepretasikannya sendiri?
Menerka-nerka, menciptakan asumsi tanpa dasar, mencoba mengerti apa yang tengah terjadi?

Tapi aku takut salah mengartikanmu,
Aku takut cerita kita berbeda,
Versiku, dengan imajinasi berlebih dan seringkali tak masuk akal
Dan versimu yang mungkin lebih netral
So please, tell me something
One thing,
Apa yang harus kulakukan agar aku bisa mengerti, cerita apa yang ingin kau sampaikan?

Lagu tentang hujan~

    Musim ujannya udah mau selesai, tapi berhubung tempat saya masih sering diguyur hujan. Jadi engga basi2 amat kan kalau mau bahas masalah hujan sekarang?
source
     Selalu ada dua cara yang saya lakukan untuk menikmati hujan. Yang pertama, hanya melihatnya dari dalam kamar, menikmati aroma hujan yang khas itu, sambil bernostalgila. Mengingat satu atau beberapa hal yang pantas untuk dinostalgiakan, mengubur diri didalam tumpukan selimut dan meminum sesuatu yang hangat  (bo'ong ding, seringya bobok aja kalo hujan). Atau yang kedua, menikmati setiap tetes air hujan yang jatuh, langsung bersentuhan dengan kulit. Engga trus sengaja ujan-ujanan juga sih. Saya bukan anak kecil lagi. Cuma, kadang-kadang kita ditempatkan pada situasi dimana kita harus bermobilisasi dari satu tempat ke tempat lain, dan tepat disaat itu, hujan turun tanpa ampun. And if you ask me, what I'm gonna do? I'll definitelly choose to get drenched by the rain daripada harus repot-repot berteduh, pake jas hujan atau payung. Dan ini beberapa lagu yang sering saya dengar/dendang kan pas lagi ujan. Here they are~

1. Hujan - Utopia
Aku selalu bahagia, saat hujan turun, karena aku dapat mengenangmu untukku sendiri
Entah kenapa dengerin lagu ini aja bikin gue ngerasa seger dan hepi. Suara rintik hujan diawal lagu membuat lagu yang satu ini pas banget didengerin pas lagi hujan, ataupun disaat kita merindukan hujan. Ataaau... disaat kita merindukan seseorang. Hahaa, pernah tau pepatah yang bunyinya gini gak? Di dalam hujan, ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yg rindu. Is it true? At least for me, it's true.

2. Sheila On7 - Hujan Turun
Waktu hujan turun, disudut gelap mataku, begitu derasnya, kan kucoba bertahan
Kalau di lagu ini, si hujan yang dimaksud mungkin bukan tipe hujan yang menyenangkan seperti apa yang saya sukai. Tapi suara Oom Duta, beat musik yang gak menye-menye, dan maksud yang ingin disampaikan dari lagu ini, bikin kita bisa tetep semangat meskipun mungkin dinginnya ujan bikin kita pengen meringkuk dibalik selimut.

3. Taylor Swift - Fearless
There's something about the way, The street looks when it's just rained, There's a glow on the pavement you walked me to the car
And you know I wanna ask you to dance right there, in the middle of the parking lot, yeay~

Liriknya aja bikin orang pengen ujan-ujan. Ditambah lagi musiknya yang selow nyantai, enak banget lah pokoknya didengerin sambil baca buku dan selimutan pas ujan.

4. L'arc en Ciel - Singin in the rain
Melodi yang meliuk-liuk santai, suara oom Hyde yang empuk, ditambah petikan gitarnya kakak Ken dan bassline nya kakak Tetsu bikin lagu ini enak banget buat dinikmatin pas lagi nyantai. Artinya lumayan dalem loh lagu ini... Buat yang engga ngerti bahasa Jepang (kayak saya) search aja di google :)

5. Priscilla Ahn - Rain
Rainy day please stay
Rain rain don't go away
Sun can go back another day
Rainy day please stay...

Bener2 lagu tentang hujan kan? Lagunya bercerita tentang apa saja yang biasa kita lakukan ketika hujan :) Suara Priscilla yang lembut diiringi petikan gitar akustik yang minimalis membuat lagu ini pas banget buat didengerin sambil nungguin hujan berenti. Siapa tau bisa ketiduran... iya gak??

6. YUI - Rain
Lagunya up beat banget, meskipun sebenernya liriknya sedih. Sepertinya mbak YUI lagi galau, makanya dia teriak2. Siapa yang engga galau coba kalau ditinggalin sama orang yang kita cintai di momen yang seharusnya jadi momen yang menyenangkan? Sedih banget kan?? :'(

7. Sepanjang jalan kenangan
Sepanjang jalan kenangan, kita slalu bergandeng tangan. 
Sepanjang jalan kenangan, kau peluk diriku mesra.
Hujan yang rintik-rintik, diawal, bulan itu menambah indahnya malam syahdu.

Kalo buat yang satu ini, alasannya absurd banget. Mungkin gara-gara lagu ini selalu ngingetin saya sama cerita Ibu-Bapak pas jaman muda dulu, dan karena selera lagu saya yang agak-agak jadul, tiap saya ujan-ujan pas naik sepeda motor, pasti tanpa sadar, saya teriak-teriak mendendangkan lagu ini. Entah apa yang dipikirkan orang yang secara gak sengaja liat saya. Hmmm...

8. Officialy Missing You
All I hear is raindrop falling on the rooftop
Hey baby tell me why'd you have to go

Cause this pain I feel won't go away,
And today, I'm officially missing you
Lagu galau buat orang yang lagi keinget sama mantan, nyerah buat terlihat sok kuat, dan akhirnya ngaku kalo sebenernya dia rindu. . .
Lagunya selow dan menina-bobokan, jadi pas banget buat didengerin sambil ngantuk2 :)

9. Teardrops in the rain - CN BLUE
I don't kno which way t choose how can I find a way to go on
I don't know if I can go on without you
Even if my heart still waiting just for you
I really know you're not feeling like I do
Even if the sun shining over me
How come I still freeze
No one ever see, no one feel the pain
I sheed teardrops in the rain

Suara Jonghyun yang krispi dikuping enak banget buat didengerin, meskipun lagunya mengisahkan tentang kegalauan, tapi bagus. Galau banget. Dan tanpa sadar, saya sering menyanyikan lagu ini pas lagi ujan2, sambil nangis. Hehe, enggak gitu juga ding. ..

Soooo. that's it! Ini playlistku... mana lagu yang tepat buat menemani hujanmu :)

[Review] The 100 Year Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappear~

    Udah lama banget pengen bikin review. Cause I've read a lot of book lately. Tapi sayangnya sejak jadi magangers di salah satu kantor pemerintahan, I don't have that much free time anymore like I used to. Dan sepertinya setelah 2 minggu pun saya belum bisa menyesuaikan diri dengan perubahan jam kerja dan istirahat dan maen2 saya.

   And one of those book is "The 100 Years Old Man Who Climbed Out of The Window and Disappeared". Judulnye panjang banget kan?? Iye, emang.

    Allan Karlsson hanya punya waktu satu jam sebelum pesta ulang tahunnya yang keseratus dimulai. Wali Kota akan hadir. Pers akan meliput. Seluruh penghuni Rumah Lansia juga ikut merayakannya. Namun ternyata, justru yang berulang-tahunlah yang tidak berniat datang ke pesta itu.
    Melompat lewat jendela kamarnya, Allan memutuskan untuk kabur. Dimulailah sebuah perjalanan luar biasa yang penuh dengan kegilaan. Siapa sangka, petualangannya itu menjadi pintu yang mengungkap kehdupan Allan sebelumnya. Sebuah kehidupan dimana-tanpa terduga- Allan memainkan peran kunci dibalik berbagai peristiwa penting pada abad kedua puluh. Membantu mencipakan bom atom, berteman dengan Presiden Amerika dan tiran Rusia, bahkan membua pemimpin komunis Tiongkok berutang budi padanya! Siapa sih Allan sebenarnya?

     Tergiur beli buku ini gegara ada tulisan international best seller di display nya. Tapi setelah benar2 saya beli, I think this book is not the most interesting book I've ever read. Lucu? Mmm... entahlah. Yang jelas seperti buku2 terjemahan lainnya, butuh banget konsentrasi buat bisa ngerti jalan ceritanya. 

     Buku ini bercerita tentang seorang pria tua a.k.a kakek2 berumur hampir 100 tahun, Allan Karlsson yang akan merayakan dirayakan ulang tahunnya, tapi sayangnya dia justru lebih memilih untuk kabur. Lalu apa yang bisa dilakukan kakek berusia seabad ini di dalam perjalanan melarikan dirinya? You'll be surprised, seriously. Karena kita tidak akan pernah menyangka bahwa seorang dengan usia setua itu akan mampu melakukan hal2 luar biasa di luar nalar kita.

     Diceritakan dengan alur berseling antara "apa yang Allan lakukan di masa lalu" dengan "apa yang terjadi sekarang" membuat pembaca penasaran dan bertanya-tanya who in the world is this old man?? atau tentang apa yang akan dilakukan selanjutnya?

    Siapa yang menyangka bahwa kakek tua yang tinggal di rumah lansia ini dulunya adalah orang yang entah disengaja ataupun tak sengaja menjadi kunci terjadinya beberapa peristiwa besar pada masa perang dunia dulu. Hmmm penasaran? Baca sendiri :)

   Oh iya, di buku ini juga pada beberapa bagian yang membahas tentang negara kita tercinta, Indonesia. Karena di cerita ini Allan dan beberapa temannya akhirnya tinggal dan menetap di Pulau Bali, our very Paradise Island. But the sad thing is, di buku ini negara kita dianggap sebagai negara yang sangat korup. Siapa pun, maksudku benar2, SIAPA PUN, bahkan seorang penjahat bisa tinggal dengan bahagia, aman tanpa takut gangguan apapun di negara kita ini asal punya uang yang banyak. Karena APAPUN bisa dibeli disini. Sad but true. Right?

[Quotes] Unforgotten Page~

Aku terus berpikir tentang sebuah hari bagai selembar kertas pada sebuah buku. Satu- satu akan terbuka maju selesai terbaca. Tanpa pernah terbuka kembali ke halaman sebelumnya, walau pada kenyataannya kadang kita melakukan itu. Entah karena lupa, atau karena kita memang sedang ingin kembali mengulang bagian yang berkesan sebelumnya, atau karena... sesuatu yang memaksa kita berbalik kesana! Aku mungkin salah satu dari orang yang ingin berbalik ke halaman lalu...
~ Yudi Herwibowo, Enigma~


Apa aku pernah berpikir untuk membuka kembali halaman yang sudah kulewati??
Tentu saja, and it's mostly those pages about you ;)

Tentang Hidup dan Transjakarta~

source

    Terinsprasi dari pengalaman saya beberapa waktu lalu pas nungguin Transjakarta berjam-jam dan berakhir dengan teraduk-aduk ditengah2 himpitan manusia selama hampir sejam perjalanan. Tapi alhamdulillah banget, masih bisa selamat tanpa kurang suatu apapun sampai tujuan. Dan saya tiba2 kepikiran sama sesuatu :)

     Kalo dipikir-pikir, kita hidup itu kayak naik Transjakarta. Iya gak sih? Dari awal aja nih, terkadang kita musti berjalan naik turun tangga, muter-muter ngikutin jalan yang ada biar bisa sampai di haltenya. Pengennya sih nyari jalan yang cepet, atau nyegat aja sembarangan di pinggir jalan, tapi emang bisa kayak gitu? Engga kan? Sama kayak hidup, meskipun pengen hidup sebebas apapun, masih ada aturan yang dibuat oleh sesuatu dari luar diri kita. Sadar nggak sadar, diakui atau engga, mau ditaati atau tidak, tapi dimanapun kita berada, ada sesuatu yang dinamakan aturan yang fungsinya untuk membatasi tindakan kita.

     Ketika sampai halte, kita dihadapkan pada fakta bahwa kita harus menentukan pilihan. Kalau mau ke suatu tempat, kita harus tahu komuter nomor berapa yang bisa bikin kita sampai di tempat tujuan itu. Salah jurusan, bisa2 kita nggak sampai. Begitu juga hidup, di suatu titik kita akan dihadapkan pada beberapa pilihan, dan kita harus dengan bijaksana menentukan jalan mana yang akan kita pilih. Tentunya dengan memperhitungkan segala risiko dan benefit yang dapat ditimbulkan dari masing-masing pilihan itu sendiri. Kita harus yakin dan tahu, jalan mana yang paling baik dan bisa mengantarkan ke "tujuan hidup" kita. Yah meskipun kalau kita salah jurusan kita bisa puter balik atau cari alternatif lain sih, tinggal pinter2nya kita aja, sekalian jalan2 ;)

     Setelah sampai di halte dan milih jurusan mana yang mau kita tumpangi, tak jarang kita harus antri, dan disinilah kesabaran kita diuji. Uda nunggunya lama, bus nya gak nongol2, begitu ada bus dateng, eh ternyata bus jurusan sebelah. PHP banget kan? Belum lagi kalau ternyata jurusan yang kita tuju itu jurusan "favorit" orang-orang, kita harus berdiri berjam-jam meng-ular di dalam halte. Dan menunggu keajaiban ada bus kosong yang bisa menyediakan space bagi kita buat nyempil manis di dalamnya. Duh! Sama dengan hidup. Terkadang disaat kita berusaha mati-matian buat memperjuangkan apa yang kita inginkan, dan ada orang lain yang "kelihatan" tanpa usaha bisa dengan mudahnya ngedapetin apa yang dia mau, gimana perasaan kita? Gondok? Mmmm... engga sih, barangkali ada usaha lain yang mereka lakuin dan kita nya gak tau. Iri? Dikit mungkin. Pengen kayak dia? Iya, pengen banget. Tapi apa daya kalau emang belum saatnya? Kucing hamil aja butuh waktu 3 bulan buat bisa ngelahirin anaknya (apa hubunganya sih?Teuing.) Ya itu intinya, mau engga mau kita harus sabar nunggu. Tanpa berhenti berusaha tentunya :)

     Kemudian, katakanlah kita udah di dalem bus nih, pasti ada beberapa opsi kondisi di dalamnya. Pertama, bus lengang banget, dan kita bisa duduk manis sambil menikmati dinginnya AC. Kedua, bus lumayan rame, kita engga dapet tempat duduk, harus bergelantungan tapi kepadatan normal. Ketiga, berjubel. Selain harus nahan kaki dan tangan yang cenut-cenut, kita bahkan nggak bisa ngeliat tangan dan kaki kita ada dimana. Hidup juga gitu kan? Gak selamanya susah, tapi juga gak selalu mudah. Gak melulu seneng2 dan bahagia, kadang kita harus ngerasain sedih atau kecewa. Kadang nangis, kadang ketawa, kadang juga ada dramanya. Kalo seneng terus, lalu dimana letak "kesenangannya"?? Iya gak?

     Dan begitu kondekturnya udah ngumumin halte tujuan kita udah deket... Huaa leganya luar biasa. Ada perasaan seneng gimana gitu loh (apa cuman gue aja yang ngerasa gitu?). Kalo tujuan2 dalam hidup kita udah tercapai, pasti seneng banget kan? Apalagi kalo perjalanan kita untuk mencapai itu engga mulus dan kita berhasil melaluinya, pasti ada kepuasan tersendiri.

     Tapi dibalik lika-liku perjalanan naik Transjakarta ini, gak jarang kan kita ngerasa lancar banget selama perjalanan? Langsung nemu bus, nggak antri, nggak desek2an, dapet tempat duduk, di jalannya gak macet, dan nyampe tujuan tepat waktu. Kalo ketemu yang kayak gitu, berarti mungkin kita sedang beruntung. Engga, engga ada Oom jin yang bantuin kamu dengan ngunciin semua orang di Jakarta di dalem rumah biar
gak pergi2 kok. Ya itu tadi, mungkin itu salah satu nikmat kecil yang dikasih Tuhan buat kamu. Udaah, nikmatin aja. Jangan lupa bilang makasih sama Allah :)

     Sebenernya masih banyak lagi hal2 lain yang bisa kita analogikan, tapi gue gak mau terlihat seperti orang yang cerewet dengan ngepost tulisan yang panjang2. Sooo, that's it. Dan sepertinya gue nulis ini tadi dalam keadaan setengah sadar, karena tahu2 udah jam segini.

Tiduur2. ..

[Cerpen] Aku, Kamu, dan Segelas Lemon Tea~


     Kristal dingin itu berputar-putar di dalam gelas bening berisi cairan berwarna coklat kekuningan, seirama dengan gerak sedotan yang kugunakan untuk mengaduknya. Bunyi yang ditimbulkan menyita perhatianmu sejenak. Aku berharap kau mau memulai sesuatu. Namun tidak, kau alihkan lagi pandanganmu ke luar jendela, ke seberang jalan tempat dimana anak-anak kecil tengah tertawa-tawa bermain ayunan. Lalu diam. Tak sepatah katapun keluar dari bibirmu.

     Aku hampir putus asa. Sudah hampir dua jam kita berdua duduk disini, tapi kau tak bersuara. Hanya duduk diam, dan mendengarkanku bercerita, bertanya tanpa mendapat jawaban, bahkan aku tak mampu membuatmu menatapku dengan mata coklatmu yang indah itu. Yang sekarang hanya menyiratkan kekosongan. Aku tahu, apa yang kulakukan padamu dua tahun lalu sangatlah salah. Tak perlu kau jelaskan, tak perlu kau ingatkan, karena selama dua tahun ini aku hidup dalam penyesalan dan rasa bersalah. Tanpa pernah tahu bagaimana cara menebusnya.

    Gelasku kosong. Kupanggil waitress, memesan segelas lagi minuman favoritmu. Aku bertanya padamu, apa kau mau? Tapi kau lagi-lagi tak menjawab, menggelengpun tidak. Kau masih marah, sama seperti yang kaulakukan sebulan setelah kejadian celaka itu. Kuhela nafas, lalu menyebutkan pesananku ke gadis yang megenakan seragam putih khas kafe ini. Dia mencatat dengan tergesa-gesa, lalu pergi begitu saja. Hei, apa yang salah dengan gadis itu? Sepertinya pelayan disini perlu mendapat pelajaran tentang etika. Bagaimana bisa dia memperlakukan pelanggan tetap kafe ini dengan begitu kasarnya.

    Kau masih memandang kearah luar, tak terusik dengan dengusan kesal yang sedari tadi kuucapkan panjang pendek. Anak-anak yang bermain ayunan tadi sepertinya sudah pergi. Hanya lalu lalang motor dan mobil yang menghiasi jalanan depan. Lampu-lampu penerang jalan mulai dinyalakan. Tanda bahwa matahari mulai beranjak menuju ke peraduannya. Dan kau masih membisu. Sama seperti yang kau lakukan setiap kali bertemu denganku dua tahun terakhir ini.
    "Esther, kumohon bicaralah padaku," kucoba meraih genggamanmu, tapi kau menepisnya.
   "Aku tahu, aku salah karena telah menghianatimu dua tahun lalu. Tapi aku sadar, aku telah berubah sekarang. Dan kau tahu itu", kuusap kedua mataku yang mulai berair. Aku tipe lelaki yang pantang menangis, seorang lelaki tak mungkin terisak di hadapan perempuan yang dicintainya. Tapi terkadang hal-hal seperti air mata bukanlah sesuatu yang bisa kau kendalikan kecuali kau seorang aktor.

    Perkataanku kali ini masih berbuah sama, kau sama sekali tak tersentuh, ekspresimu seakan menunjukkan bahwa kau sudah bosan dengan apa yang kukatakan. Kali ini kau lebih memilih untuk memainkan gantungan kunci mickey mouse yang kau kaitkan di tas mu.
   Aku menghela nafas. "Sejujurnya, aku sangat bersyukur kau masih mau bertemu denganku setelah kejadian itu. Aku sangat bersyukur dan menghargai kebesaran hatimu. Tapi kebisuanmu selama ini sangat menyiksaku, membiarkanku melihatmu setiap hari tanpa mau berbicara sepatah katapun padaku. Kau tahu, itu sangat kejam Esther. Jadi kumohon, bicaralah padaku," ucapku  lirih.

    Percakapan kita, bukan, permintaan maafku yang menyedihkan harus terpenggal sejenak, karena waitress tadi kembali membawakan minumanku. Masih dengan tatapan anehnya, dia mengangsurkan gelas keduaku dengan memaksakan sedikit senyuman. Kuucapkan terima kasih, lalu kuminum seteguk minuman asam ini. Iced Lemon Tea. Minuman favoritmu yang nomor satu. Aku sangat ingat itu. Karena kau tak pernah absen memesan minuman ini setiap kali kita pergi makan, kapanpun, dimanapun. Aku selalu terheran-heran, bagaimana bisa kau menikmati minuman aneh ini. Rasa asamnya sebenarnya tak pernah bisa membuat perutku nyaman. Tapi kau bilang justru rasa asam tidak mengenakkan itulah yang membuatnya manusiawi.

    "Kita hidup di dunia, engga mungkin kan selalu menikmati apa yang disebut dengan kebahagiaan? Terkadang kita menemui hal-hal sulit yang mau-tak mau harus kita lalui. Dan setelah melaluinya, kita disadarkan bahwa justru dari hal sulit itulah kita belajar untuk menjadi sosok yang lebih kuat. Setelah menghadapi masa itu, kita akan bermetamorfosis menjadi sosok yang lebih dewasa dan percaya diri menghadapi hal lain yang mungkin lebih sulit. Dari proses itu kita sadar, bahwa hidup tak selalu diwarnai dengan segala sesuatu yang manis dan memanjakan. Dan menurut aku, semua rasa itu terangkum dalam segelas minuman ajaib yang kita sebut lemon tea. Ada rasa manis di dalamnya, terkadang kau menemukan pahit jika si penyeduh terlalu lama mencelupkan tehnya, dan ada rasa asam yang terkadang membuatmu harus mengernyitkan mata. Itu semua rasa dalam kehidupan yang harus kita lalui. Meskipun aku lebih prefer ada tambahan es di dalamnya, karena itu akan menambahkan perasaan "menyegarkan" yang tiada tandingannya."
    Begitu penjelasan panjang lebar yang kau berikan saat aku menanyakan mengapa kau tergila-gila dengan jenis minuman teh ini. Aku hanya bisa menggelengkan kepala dan tertawa, menyerah pada filosofi brilianmu. Kau tahu, aku rindu dirimu yang ceria seperti dulu. Kupandangi rambut ikal sebahumu yang kau biarkan tergerai. Betapa aku sangat ingin menyentuhnya.

    Bunyi klakson truk pengangkut semen membuyarkan lamunanku. Kulirik jam di pergelangan tangan. Sepertinya usahaku untuk membujukmu akan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.
"Ayo kita pulang sayang, aku tak mau ibumu marah karena tak segera mengantarmu pulang", ucapku lembut. Kau beranjak dari kursi lalu mendahuluiku berjalan ke mobil yang kuparkir di samping kafe. Masih dengan ekspresi datarmu. Kuambil tas yang tersampir di kursi lalu berjalan ke arah kasir. Usai membayar, aku masih berdiri mematung di dekat meja kita di depan jendela kaca besar. Memandangi gelas kedua Iced Lemon Tea yang belum habis kuminum. Di belakang, aku mendengar bisik2 pegawai kafe yang tadi mengantar minuman kita. Bergosip dengan rekannya.
     "Mbak Lia, orang itu agaaak...?"
    "Ssstt.. Jangan keras2. Dia itu pelanggan di kafe ini. Sudah dua tahun kebelakang selalu datang ke tempat ini, memesan dua gelas lemon tea tanpa pernah menyentuh gelas yang satunya. Dan selalu berbicara sendiri, terisak, lalu pergi, tepat saat senja datang seperti ini. Kabarnya kekasihnya meninggal bunuh diri dua tahun lalu, entah karena apa."

     Cih, dasar perempuan, hobby sekali membicarakan sesuatu yang bukan urusannya. Tak kudengarkan sisa percakapan mereka. Toh bukan urusanku juga, pikirku lalu melangkah pergi meninggalkan meja itu. Meninggalkan segelas lemon tea tak tersentuh yang telah menjadi saksi pertemuanku denganmu, saksi amarah dan kebisuanmu dua tahun terakhir ini.

[Review] Refrain - Winna Efendi~

Add caption
Judul : Refrain (Saat cinta selalu pulang)
Penulis : Winna Efendi
Penerbit : Gagas Media
Tebal buku : 317halaman

Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia. Yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.

Ini bisa jadi sebuah kisah cinta biasa. Tentang sahabat sejak kecil, yang kemudian jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri. Sayangnya, di setiap cerita harus ada yang terluka.
Ini barangkali hanya sebuah kisah cinta sederhana. Tentang tiga sahabat yang merasa saling memiliki meskipun diam-diam saling melukai.
Ini kisah tentang harapan yang hampir hilang. Sebuah kisah tentang cinta yang nyaris sempurna, kecuali rasa sakit karena persahabatan itu sendiri.

Nata dan Niki adalah dua orang sahabat yang sudah berteman sejak bocah. Mereka sudah saling mengetahui sifat baik maupun buruk satu sama lain. And it makes them think that they'll never ever fall for each other, dan bisa berteman seperti itu selamanya. Setidaknya, itu yang diyakini Niki.

Tapi, apa mau dikata ketika Nata mulai merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang mungkin tak seharusnya dia miliki, sebagai sahabat. Karena tak wajar bagi seorang sahabat untuk merasa risih ketika teman-teman cowoknya mulai membicarakan gadis kecil yang manja itu. Dan sangat tak wajar bagi seorang sahabat untuk merasa marah ketika sang gadis mulai beranjak dewasa dan ingin mengenal cinta. Atau merasa cemburu ketika Niki mulai mengenal Oliver, dan menginginkan Niki meninggalkan Oliver demi berada di sisinya. Meski Nata masih belum mau mengakui perasaan yang dimilikinya, dia tak bisa selamanya menyembunyikan rahasia itu dari sahabatnya.

Kisah ini tak hanya tentang mereka berdua. Banyak pihak yang harus terlibat di dalam kisah menyesakkan mereka.

Ada Annalise, sahabat baru mereka. Si gadis pendiam, anak dari seorang model terkenal yang sangat kesepian. Yah, mereka harus mengalami kisah cinta segitiga. Secara tak sadar ketiga sahabat ini saling menyakiti. Siapa yang harus dipersalahkan? Tidak ada, karena cinta tak dapat memilih.

Kemudian, ada konflik juga dalam hubungan Niki dan Oliver. Kenyataan bahwa Oliver masih belum bisa move-on dair cinta pertamanya membuat Niki mulai mempertanyakan apakah yang dirasakannya benar-benar cinta? Lalu ada Helena, si ketua tim cheerleader yang ternyata merasa tersaingi dengan keberadaan Niki. She's just a girl with a wicked mind, dia berusaha menyiapkan skenario jahat untuk meyakiti Niki. Tapi pada akhirnya, justru dia lah yang tersakiti.

I always thought that it would be great if I had a boy-friend. Karena kata mereka yang mempunyai sahabat cowok, sahabatan sama mereka itu lebih asik, punya cara berpikir yang berbeda dari kaum cewek, dan yang pasti gak se-ember para calon ibu-ibu. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya curhat ke dua orang kakak laki-laki saya saja sudah cukup. Jadi, hal semacam itu sudah tak pernah lagi terlintas di pikiran saya.

Buku ini, sebenernya udah pernah baca sebelum ini, entah kapan. Tapi baca lagi gak ada salahnya kan? Toh setelah membaca lagi pun, emosi saya masih bisa dicampur aduk sama mbak winna efendi. Sayangnya, saya terlanjur udah tau kalo setelah difilmkan, pemeran Niki dan Nata dari film Refrain ini adalah Maudy Ayunda dan Afgan. Jadi, sedikit banyak imajinasi saya terkontaminasi oleh sosok mereka. Kalau untuk Niki sih, mungkin Maudy sangat cocok untuk mewakili karakternya. Tapi untuk Afgan jadi Nata? No offense, but there's something off. Kita liat aja dari deskripsi fisiknya, rambut Nata yang ikal agak panjang sepertinya gak dimiliki Afganteng. Kemudian, untuk sikap Nata yang cuek dan agak dingin.. Dinginnya sih mungkin dapet.. Ah, entahlah. Lagian, siapa coba penyanyi solo cowok yang punya suara bagus dan karakternya mirip sama Nata? Gak ada kan? Jadi, sepertinya Afgan cukup mendekati. Meskipun sempat terlintas Adipati Dolken versi bisa nyanyi di pikiran saya.

Satu hal dari buku ini yang membuat saya sangat terkesan adalah puisi yang dituliskan Nata untuk Niki. Puisi yang diberikan Nata lewat program secret admirer. Karena apa? Karena Nata gak mau menghancurkan persahabatan mereka. Karena Nata gak mau Niki kecewa. Sepotong sajak yang mewakili perasaannya untuk sahabatnya...

Bulan emas tinggal separuh
Bintang-bintang sangat pemalu
Kau terduduk di sampingku
Aku lantas mencintai bayangmu
Kau menoleh untuk tersenyum
Hatiku berserakan... lebur dan lepuh

It's just so simple, yet touching. Enggak gombal banget, tapi manis.

So, that's it. My review of Refrain, which is more like random rant than a review. I'm not on my right mind now. Sorry~